Skip to content

Puisi/Cerpen

Doa untuk Bangsa

Oleh : Taufik Marzuki, M. Pd. I

 

Allahumma ya Allah, ya Rahman…
Hanya Engkaulah zat yang member perlindungan
Saat ini kami mengikuti upacara hari kemerderkaan
Kami memohon kepadamu dengan penuh harapan
Berilah kami kesehatan dan kesempatan
Untuk menatap hari depan yang penuh tantangan
Jauhkan kami dari bujuk rayu setan
Yang berbisik dalam hati setiap insan
Menebar fitnah dan permusuhan
Memecah belah persatuan dan kesatuan
Menghancurkan tatanan kehidupan yang telah mapan

 

Allahumma ya Allah ya Rabbula Izzati
Hanya engkaulah Zat yang maha tinggi
Ampunilah dosa para pahlawan bangsa kami
Tempatkanlah mereka di tempat yang layak di sisimu ya Rabbi
Mantapkanlah hati kami dalam berbakti dan mengabdi
Agar hidup kami terpuji dan penuh arti
Dalam membangun negeri yang aman lestari
Menuju masyarakat bahagia sejahtera dalam ridho ilahi.

 

Allahumma ya Allah, yang merajai hari pembalasan
Bukakanlah pintu hati para pemimpin kami dengan kesadaran, kesabaran, kearifan serta kebijaksanaan
Bukan mengadu kekuatan dan kepentingan
Anugerahilah mereka ilmu dan iman
Untuk menuju pembangunan berkelanjutan
Demi terwujudnya masyarakat adil dalam kemakmuran
Dan makmur dalam keadilan

 

Allahumma ya Allah, ya Aziz ya Ghaffar
Saat ini kami berkumpul bersatu padu
Memohon rahmat dan kasih sayangMu
Ampunilah dosa kami, dosa ayah ibu kami dan dosa seluruh hambaMu
Karena kami adalah persinggahan salah dan keliru

 

Allahumma ya Allah, Azza wa Jalla
Hanya Engkaulah Zat yang maha perkasa
Hindarkanlah kami dari perbuatan dosa dan tercela
Sekiranya Engkau benci dan murka
Jauhkanlah bangsa Indonesia dari malapetaka dan bencana
Hanya Engkaulah Ya Allah, Zat yang maha mengabulkan doa
Perkenankanlah doa kami semua

 

Amin……….

.


.

Anak Perantauan

Oleh : Suryadi, XI IPS 3

Diantara gelombang yang terus bergejolak
Diantara hembusan angin topan
Diantara hamparan bumi yang semakin renta
Tersimpan sebuah harapan
 
Tulang tua yang mulai gersang itu
Tulang tua yang setiap hari kerja menggebu
Tulang tua dengan kata yang lebih banyak membisu
 
Demi seorang anak yang ada
Di perantauan
Yang berjuang mencari ilmu
Entah ilmu, entah semu
Dengan berjuta harapan terpatri disitu

.


.

Sang Penjawab

Oleh : Denny Bachtiar, XI IPA 1

Menguak misteri jawaban
Seluruh pertanyaan
Yang pernah tertahan
Tak sesuai tatanan
 
Nol hingga seribu
Titik hingga simetri
Ajarkan daku
Bayi hingga mati
 
Perjuanganmu
Ketelatenanmu
Selalu menjadi penghias hariku
Bingkai ceritaku
 
Perantara anganku
Menggapai jati diri
Kau adalah sang korektor
Segala khilafku
 
Jasamu tak tertanda
Ilmumu tak terkira
Namamu mekar berbunga
Sepanjang masa
 
Mengukir disiplin di hati
Tertib terpatri
Kebersamaan denganmu selalu utuh
Dan takkan pernah runtuh

.


.

Penantian

Oleh : Desi karmila Yani, XI IPS 3

Ada cahaya redup melintas di matamu
Tengadahmu meneteskan kristal bening
Hangat terasa menambah kepedihan
 
Tangan lusuh penuh kesabaran
Hanya mengurut dada yang penuh penderitaan
Cahaya redup di penghujung tahun
Sedikitpun tiada yang mampu memberimu senyum
 
Kabar itu telah meruntuhkan duniamu
Penantian yang tiada terbatas
dibalas selelmbar undangan biru jatuh luruh
diantara kelelahan yang tersia-sia

.
.


.

HIDUPKU

Oleh : Mastina, XI IPS 3

Tlah lama aku mencoba berlari
Dari segala penderitaan yang melilit hati
Yang terus mencengkeram langkahku
 
Putus asa kadang mendera
nafas memenjarakan jiwa
Seakan jauh dari bahagia
 
Tuhan……..
Ampuni aku
Tiada bersyukur kepadamu
Hingga bahagia tidak pernah datang kepadaku
 
Mengapa langkahku hanya terpaku
pada derita hidupku
hanya disitu
 
Aku selalu berusaha menerjang
Penderitaan yang terus bergelombang
Namun…
Dalam rapuhnya jiwa
Dalam keringnya raga
bayang hitam selalu berjelaga

.
.


.

HAMPA

Oleh : M. Akid, XII IPA 1

Dalam do’amu malam itu kau menjelma langit tak berbatas
Kian mencakar angin yang teratas
Seakan siap menerima, menerka . . .
Tiap-tiap suara yang seakan muncul menarik jiwa
Setiap kali kau tapakkan tanganmu pada Al-ard

Hingga saatnya cahaya terbangun
Dari tenggelam hingga pada terbitnya
kau mulai menjelma bagaikan burung . . .
Terbang mengitari tiap-tiap luka, tiap tangis
tiap ratap . . .

Dan pun . . .
Dalam tegak Benderang cahayanya
Kau masih ingin menjelma menjadi sesuatu
Aku memang tak mengerti apa yang kau cari
hingga saat itu kau mampu menjelma berbagai hal

Dan hingga aku duduk disajadah do’aku
‘Tuk mencari tahu yang kau cari . . .
Taukah kau . . . ?
Apa-apa yang kutemukan . . . ?

Hampa . . . !!!

.
.


.

TIDAK ADA ILMU YANG SIA-SIA

Oleh : Amalia, M. P. Fis

Saya adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa merasakan mengenyam pendidikan pasca sarjana di salah satu universitas terbaik di negeri ini. Saya, yang hanya seorang guru sebuah Madrasah Aliyah yang terletak di pinggiran kota palembang dan dibesarkan juga di pinggiran kota Palembang dapat kuliah di Institut Teknologi Bandung yang bahkan termasuk dalam 300 perguruan tinggi terbaik di dunia. Sungguh suatu kenyataan manis yang sangat saya syukuri.

Banyak hal yang saya rasakan berbeda ketika saya kuliah S.1 dahulu dengan kuliah S.2 sekarang. Hal yang paling mencolok adalah dipergunakannya buku teks yang hampir kesemuanya berbahasa Inggris. Hampir semua teman mengeluh jika berhadapan dengan bahasa Inggris, tetapi saya tidak merasa ada sesuatu yang perlu dikeluhkan. Hal tersebut bukan karena saya sangat mahir berbahasa Inggris, sama sekali tidak, tetapi karena saya sangat menyukai bahasa Inggris.

Kalau saya mengenang masa-masa dimana saya memulai kesukaan terhadap bahasa Inggris, saya merasa sedikit norak, sedikit aneh, dan sedikit sentimentil. Salah satu hal yang membuat saya menyukai Bahasa Inggris adalah bahwa saya merasa sedikit ‘keren’ ketika dapat menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Kecintaan saya pada bahasa Inggris bermula dari ‘kompetisi tersembunyi’ antara saya dan tiga teman dekat saya waktu SMP. Mereka senang menyanyikan lagu berbahasa Inggris, lagu-lagu barat, yang lagi ngetren pada saat itu. Dua orang menyukai musik pop sedangkan satu orang lebih menyukai lagu-lagu yang berirama rock dan metal. Tetapi benang merah dari kesukaan mereka adalah bahwa lagu yang mereka gemari adalah lagu barat yang biasa mereka tonton dari parabolanya masing-masing. Waktu itu saya tidak terlalu mengerti apa yang mereka nyanyikan karena jenis lagu yang saya tahu hanya dangdut yang memang disukai oleh ayah dan ibu saya.

Setiap hari kami berjalan pulang pergi disepanjang jalan berdebu yang tidak kunjung diaspal. Kami berjalan kurang lebih 4 km ke SMP kami. Di sepanjang perjalanan ketiga teman saya tersebut sering membicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan musik barat, mulai dari grup band dan personilnya yang memang sebagian besarnya ganteng-ganteng sampai menyanyikan lagu barat yang sedang ngetren pada saat itu. Walaupun kadang-kadang ketiga teman saya itu saling berdebat mengenai jenis musik yang mereka sukai, tetapi tetap saja tawa menyelingi pembicaraan mereka dan akhirnya dengan riang mereka menyanyikan lagu barat.

Saya sendiri tidak begitu menikmati pembicaraan tersebut. Sesekali saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan mereka ketika menanyakan mengapa saya sering diam saja. Apa yang perlu dikatakan kalau saya sendiri tidak bisa berkata-kata dalam bahasa tersebut ? Membaca saja aku sulit.

Tawa mereka meledak ketika saya ditanyai penyanyi idola dan saya katakan bahwa saya mengidolakan raja dangdut yang paling tenar saat itu, mungkin hingga kini.

Sebagai anak pinggiran yang tinggal dekat lebak dan rawa, saya sama sekali sangat asing dengan lagu-lagu barat. Apalagi waktu itu, tahun 1990-an, siaran televisi swasta baru saja masuk ke Palembang dengan kekuatan sinyal yang berada di garis antara ada dan tiada.

Perlu diketahui bahwa pada saat itu bahasa Inggris baru dipelajari saat duduk di bangku SMP, tidak seperti anak sekarang yang bahkan di play group sudah diperkenalkan dengan bahasa Inggris. Tapi dari situlah saya menyatakan tekad. Walaupun saya tidak punya buku paket Bahasa Inggris ataupun kasetnya Air Supply, sedapat mungkin saya berusaha agar bisa menyanyikan lagu barat. Tapi bagaimana caranya ? Orangtua saya hanyalah Pegawai Negeri (PNS) yang memulai kerjanya dari golongan II dan mempunyai lima anak yang kesemuanya harus sekolah. Saya juga bukan tipe anak yang pandai cari uang sendiri. Oleh karena itu saya harus mencari cara agar bisa menyanyi lagu barat. Saya tidak boleh kalah dengan ketiga teman saya yang mempunyai parabola tersebut.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah saya harus punya radio kecil. Belum ada yang namanya MP3 atau HP pada saat itu. Maka radio kecilpun sudah cukup untuk bisa menunjang saya untuk belajar menyanyi lagu bahasa Inggris. Tapi tidak mungkin saya minta pada orangtua saya. Mereka sudah cukup kerepotan untuk membagi dana yang ada untuk tujuh orang dalam keluarga.

Oleh karena itu saya berusaha mencari informasi tentang kuis yang sering diadakan sebuah radio swasta dimana hadiahnya adalah sebuah radio saku. Dari teman, saya tahu bahwa kuis tersebut diadakan tiap hari jam 10.30 pagi. Pertanyaannya hanya menebak suara apa yang sedang diputar. Dari informasi tersebut saya menyusun strategi. Karena tiap hari saya sekolah, otomatis hari yang bisa digunakan untuk menjawab kuis tersebut hanya hari minggu. Tentang tebakan suaranya, tentu saya juga harus banyak latihan. Oleh karena itu saya sering mengajak adik saya untuk bermain tebak suara.

Akhirnya tepat jam 10 pagi minggu itu, dengan bekal uang logam 100 rupiah saya berjalan menuju telepon umum yang terdekat dari rumah saya. Begitu jam menunjukkan pukul 10.30 saya langsung mengambil gagang telepon umum itu dan memutar nomor telepon radio tersebut. Agak sedikit deg-degan karena sebelumnya saya sama sekali tidak pernah memegang telepon. Telepon adalah barang mewah yang langka ditemui di tempat tinggal kami di pinggiran kota palembang.

Dari seberang sana saya mendengar penyiar radio menyapa saya, saya sebutkan saja nama saya. Beberapa detik kemudian ia mulai memperdengarkan sebuah suara. Tidak salah lagi, itu suara air yang mengalir. Saya tahu betul suara itu karena di dekat rumah saya  ada sungai dan lebak yang airnya sering pasang dan surut. Ketika air pasang, maka air tersebut akan mengalir dan seperti itulah suaranya, persis dengan suara yang sedang saya dengar sekarang dan…

Saya berteriak kencang ketika penyiar radio tersebut menyatakan kalau jawaban saya benar. Saya senang sekali, dengan bekal koin 100 rupiah saya mendapatkan radio saku. Seminggu kemudian, dengan diantar oleh ayah, saya mengambil hadiah saya tersebut. Satu langkah telah terlewati.

Dengan radio tersebut, saya sering mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Tetapi tetap saja saya tidak bisa mencatat lirik lagu-lagu tersebut. Terlalu cepat dan tidak bisa diikuti oleh saya, yang hanya anak SMP waktu itu. Saya harus mencari orang yang dapat mencatatkan lagu-lagu tersebut, tapi tentu saja syaratnya harus GRATIS.

Malam selasa itu saya merasa sangat bosan dengan PR yang menumpuk. Sebenarnya PR itu dikumpul 2 hari lagi, namun buku paket yang saya pinjam dari seorang teman harus segera dikembalikan besok, lengkap dengan jawaban yang sudah saya kerjakan. Membeli buku paket juga merupakan hal mewah yang jarang terjadi ketika saya masih bersekolah dulu. Teman saya itu sebenarnya tidak meminta bukunya dikembalikan dengan tambahan embel-embel jawaban, tapi saya cukup tahu cara untuk belajar dengan ekonomis, meminjam buku dengan ‘ramah’, yaitu suplemennya berupa jawaban saya walaupun kadang-kadang banyak juga salahnya.

Ketika saya merasa otak saya sudah mendidih dan fikiran sudah menguap ke mana-mana, maka saya menyetel radio saku tersebut sekedar untuk cooling down. Radio dengan ukuran 20 x 10 x 2 cm itu saya putar untuk menyusuri stasiun-stasiun radio FM. Putaran itu terhenti ketika saya mendengar si pembawa acara radio menyebutkan lambat-lambat sebuah kalimat berbahasa Inggris. Saya dengarkan lagi kalimat berikutnya. Sepertinya saya kenal dengan kalimat-kalimat itu. Saya memekik. Tak salah lagi, itu adalah ‘Good Bye’nya Air Supply. Aduh…. ini sudah bait keberapa ? Segera saja buku PR yang sedang saya pegang dibalik sampai ke halaman terkahir. Di halaman tersebut saya menulis kalimat-kalimat yang disebutkan oleh pembawa acara tersebut. Setelah sampai pada kalimat terakhir, tiap baitnya, diputarlah lagu tersebut sehingga pendengar dapat menyanyikan bait yang baru saja ditulisnya. Ternyata sudah sampai reffrainnya, tapi lumayanlah. Besok pagi ketika berangkat sekolah saya bisa ikut menyanyi bersama ketiga teman saya yang mempunyai parabola itu. Duh …… senangnya. Nyanyi lagu barat ? Pasti keren ! Semalaman saya tidak bisa tidur nyenyak membayangkan kerennya diri saya besok ketika menyanyikan lagu barat.

Dan besoknya……… Untuk pertama kalinya saya bisa ikut menyanyikan lagu berbahasa Inggris miliknya Air Supply dengan mereka, ketiga sahabat saya itu. Hati saya haru campur senang. Akhirnya……. saya bisa juga menyanyi lagu barat.

Ketiga teman saya itu hanya terlongo dengan pandangan nanar ketika melihat saya menyanyi bagai kaset yang terus direwind. Pandangan mereka tambah aneh ketika sadar bahwa lagu tersebut hanya sebatas reffrain.

Mulai saat itu saya bisa menyanyikan lagu-lagu barat. Saya jadi rajin menyetel radio. Senin malam adalah malam yang spesial buat saya. Setelah beberapa minggu dari situ saya baru tahu kalau program itu disebut ‘Lirik dan Lagu’. Disitu si pembawa acara membacakan baris demi baris suatu lirik lagu berbahasa Inggris dan asyiknya ia akan mengejakan huruf per huruf untuk unfamiliar words. Yang perlu aku pahami hanya bagaimana ejaan untuk tiap huruf bahasa Inggris tersebut. Ya modalku hanya sebatang pensil, secarik kertas dan abcd (baca : ei bi si di).

Kalau mengingat perjuangan saya dulu dalam belajar menyanyikan lagu berbahasa Inggris, saya sering tersenyum-senyum sendiri. Bagaimana bisa hanya dengan menyanyikan sebuah lagu, saya merasa sedemikan berarti di dalam pergaulan?. Tapi itulah dunia remaja. Lagu merupakan ekspresi diri dan simbol pergaulan. Sayangnya, lagu-lagu yang diperdengarkan sekarang ini sangat jauh dari unsur edukasi. Sebagian besar lirik lagunya bertemakan kekasih gelap, mendua, atau selingkuh. Saya sering berpikir, bagaimana Indonesia akan maju jika anak balita sekarang nyanyiannya adalah “Kamu ketahuan…pacaran lagi….

Sekarang saya merasakan betul manfaat dari perjuangan belajar bahasa Inggris tersebut dan kesemuanya berawal dari kompetisi dengan teman sebaya. Sungguh tidak satupun ilmu yang kita pelajari menjadi sia-sia. Saya dulu sempat berfikir, mengapa saya suka bahasa Inggris tapi saya justru mengambil program studi fisika ketika kuliah S.1. Apa manfaatnya belajar bahasa Inggris jika tidak secuil grammarpun yang dipakai dalam menjawab soal-soal fisika. Ternyata jawabannya saya dapat sekarang. Buku teks bahasa Inggris yang banyak saya gunakan sekarang bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, tapi justru bisa dinikmati. Dengan membaca banyak buku berbahasa Inggris, sedikit banyak saya menjadi faham akan fenomena-fenomena fisika. Dan jauh dibalik itu, bahwa fisika bukan cuma sekedar soal hitung-hitungan dan rumus yang banyak, tetapi juga fenomena fisika bisa membangun peradaban dan teknologi sekarang ini.

Saya menjadi sangat memahami bahwa pendidikan yang dapat memotivasi, tidak harus mahal, tetapi mungkin harus menjadi sebuah tantangan besar bagi guru untuk dapat menciptakan kondisi dan kompetisi kondusif pada siswa-siswanya.

Saya juga sangat menginginkan agar kondisi saya sekarang juga dapat dinikmati oleh tunas-tunas bangsa yang lain. Seiring dengan anggaran pendidikan yang terus naik, saya berharap agar bahasa Inggris diajarkan tidak hanya sekedar grammar, vocabulary, pronunciation tapi juga ada sesuatu yang bisa membuat siswa fun and fine dalam belajar, misalnya saja dengan bernyanyi atau justru membuat lagu berbahasa Inggris. Mungkin tidak ada salahnya jika masing-masing siswa memiliki MP3 dan berkreativitas sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Saya juga sangat berharap agar rasa fun dalam belajar tidak hanya pada pelajaran bahasa inggris tapi juga pada semua mata pelajaran lainnya, sehingga ‘Indonesia bangkit di masa depan’ tidak hanya menjadi sekedar simbol, tapi  terbukti kebenarannya.

.
.


.

Janji Merpati

By : Mona Khoirunnisah, XII IPA 2


Hari ini, hari terakhir aku menatapnya

Ku harap merpati takkan ingkar janji

Dan membuatku sakit hati

Bila memang hati ini harus tersakiti lagi

Aku rela, dan membohongi semua dengan senyuman

Tapi bila hati ini bisa bahagia untuk sekejap

Aku tak bisa, karena aku ingin selamanya

Walau tingkahku membuat ulahku berbeda

Itu karena cinta

Hal sempurna, yang sederhana dan istimewa

Karena cinta hal kecil yang rumit

Merah hati bukan warna yang terbaik untuk Cinta

Dan aku bukan insan yang lemah untuk disakiti olehnya

Akan kutangisi perpisahan dan akan aku sesali perjumpaan

Jika memang mustahil bersama…

Dirinya……………

.
.


.

Ayah

Oleh : Asia Astuti, XI IPA 1

Ayah
Dirimu sungguh hebat
Kau tak pernah lelah dan letih
Walau panas dan hujan
Kau tetap semangat

Aku bangga padamu ayah
Aku salut padamu
Kau pergi pagi pulang sore
Demi menghidupi keluarga

Aku bangga
memiliki ayah sepertimu
Meski apapun yang terjadi
Aku kan selalu bangga padamu
.
.


.

Sebuah kejutan

Oleh : Denny Bachtiar, XI IPA 1

Di awal hariku
Engkau selalu membuat kejutan baru
Yang setiap harinya entah aku tak tahu itu

Akupun terus selalu menunggu
Kejutan apakah yang akan ada
Tapi adakah kejutan itu ?
Atau hanya perasaanku saja ?

Dimanapun aku berada
Hanya satu yang tertuju
Rumahku

Kupercepat langkahku
Hanya untuk menanti kejutan yang indah darimu ibu
Yang membuatku tahu
Betapa pentingnya dirimu bagiku
.
.


.

Lukaku Tangisanku

Oleh : Mona Khairunnisah, XII IPA 2

Aku benci semuanya
Dan aku benci itu semua
Aku marah dan aku terluka
Aku sedih dan aku menangis

Warna – warni kini pudar
Suara merdu tak terdengar
Aku mati dan aku pergi

Membawa luka karena kekurangan
Dan aku mati karena kelebihan
Aku cinta tapi aku terluka
Aku benci dan aku luka

Aku luka….. luka….. dan terluka
Sebelum maaf terucap
Aku benci semua
.
.


.

Sahabat

Oleh : Hidayana, X.2

Sahabat ………
Engkau teman sejatiku
Teman yang membuat hari-hariku lebih berwarna
Teman yang membuat hidupku menjadi bahagia

Sahabat……….
Engkau adalah tempatku berbagi
Engkau adalah penyempurna bagian hidupku
Atas segala kekuranganku

Sahabat……..
Kita berbagi tawa
Kita berbagi tangis
Kita berbagi kisah

Sahabat………
Kita adalah teman sejati
Kita adalah teman berbagi
Kita tunjukkan pada dunia arti sebuah persahabatan yang hakiki
.
.


.

Pernyataan Cinta

Oleh : Cindy Citra Ayu Putri Utami, X.2

Cinta….
Terkadang menyenangkan
Terkadang membingungkan
Terkadang menyakitkan
dan terkadang menyedihkan

Mengapa cinta seperti itu
Mengapa dalam cinta selalu mengalah

Cinta ibarat kupu-kupu
semakin dikejar
Jauh melayang terbang
Namun,
Jika dibiarkan
Ia akan mendekat

Jangan pernah katakan cinta
Jika tidak dari lubuk hati
Jangan pernah katakan sayang
jika bukan dari nurani

Tiada cinta, hatipun hampa
Tetapi ada cinta, hatipun sakit
Mungkin akan seperti itulah cinta
derita dan bahagia yang kan slalu menghiasinya
.
.


.

Takkan Pernah Tergantikan

Oleh : Yulia Ningsih, XII IPS 2

Pagi membuat hatiku segar
Siang membuat hatiku bersemangat
malam membuat hatiku bahagia
Karena dirimu yang mengisi hatiku

Namun…
Jika suatu saat kau meninggalkanku…
Aku takkan pernah dapat merasakan
Segarnya pagi, semangatnya siang atau bahagianya malam

Karena hanya dirimu yang ada dihatiku
Dan takkan pernah tergantikan sampai kapanpun…….
.
.


.

CAHAYA BINTANG

Oleh : Mona khoirunnisah, XII IPA 2

Teman, siang segera datang
Harum debu kian menipis
Aungan mesin kian berkurang
Cahaya bintang makin benderang
Yang merona disiang, kini mengatup dimalam
Lamunan mulai terbang keawang – awang
Kelip- kelip semakin bertaburan
Semakin larut semakin terang
Semakin gelap semakin terang
Cahaya Bintang
Cahaya yang mendampingi bulan setiap malam
Sampai pedih di malam
Dan perih di larut
Menghilang……………….
.
.


.

BERHENTI DAN KEMBALI

Oleh : M. Akid, XII IPA 1

Harus berhenti . . .
Untuk melihat,
Apakah masih ada . . .
sekelumit dosa . . .
Yang mengganggu perasaan jiwa
Menyandung rasa . . .
Dan mengikat kebebasan hatinya untuk terbuka . . .

Harus kembali . . .
Untuk mengerti,
Apakah masih ada . . .
Gemericik gelombang resonansi jiwa
Yang menggetarkan raganya
Beserta tulang-belulangnya
Dan mengunci Kesombongan didalam hatinya
Hingga saat kembali akhirnya . . .
.
.


.

SEMUA TENTANGKU


cerpen oleh : Hendri, XI IPA 2

Disuatu pagi yang indah dan tampak mendung. Matahari tampak malu untuk menampakkan wajahnya. Bumi tampak tenang menanti matahari untuk menampakkan wajahnya.Langitpun perlahan-lahan yang meneteskan air matanya yang sedikit demi sedikit membasahi bumi yang tak berdosa. Angin berhembus kencang menusuk kulitku yang sedikit kurus. Aku duduk tenang di muka jendela,menatapi alam yang penuh tanda tanya. Disampingku tertata buku buku tebal yang tak mungkin aku sebutkan penerbitnya satu persatu. Disertai tasku yang lusuh, warnanya pudar,jahitan dimana-mana yang terlihat penuh karena diisi dengan buku-buku yang siap aku bawa. Tampak disudut rumahku terletak sepedaku yang agak butut, warnanya yang agak pudar, karatan dimana-mana, bannya yang gundul seperti kepala Ronaldo yang botak, rantangnya yang agak reot tampak beberapa yang berlubang. Walaupun sepedaku sedemekian rupa seperti anak jalanan yang tak terurus, tapi itu sangat berharga bagi diriku karena tanpa dirinya aku tak bias menuntut ilmu dan menggapai dunia seperti Andrea Hirata.

Jarum jam menunjukkan jam tujuh kurang seperempat itu mengisyaratkan diriku bahwa aku akan pergi kesekolah karena tepat jam tujuh sekolah kami masuk. Dengan pertanda jarum jam itu, itu bertanda bahwa aku harus menghentikan lamunanku yang jauh menerawang kemana-mana, ke London, Paris, Roma,dan seluruh benua Eropa sampai Afrika. Akhirnya akupun pergi kesekolah dengan memakai jaketku yang agak lusuh, warnanya pudar, dan sedikit dekil. Kukayuh sepeda ku secara perlahan-lahan, melewati bumi yang tak bersalah, menembus angin yang berhembus kencang yang tak bisa aku halangi, menerobos hujan yang tak henti-henti menumpah ruahkan seluruh isinya yang selama beberapa hari ini tak tega untuk menumpahkan isinya.

Ditengah perjalanan keringatku menetes dimana-mana dan aku tak tahu dari mana asalnya. Hujan yang tak kunjung usai membasahi jaketku yang sedikit kecil, tanah merah merana yang sangat lengket menghalangiku menuntut ilmu, kerikil-kerikil nan mungil menusuk-nusuk ban sepedaku yang botak. Aku hanya bisa menyeringai, tanpa disadari dahiku naik, lelah…….lelah sekali seakan-akan aku tak sanggup lagi melanjutkan perjalananku. Akhirnya setelah kurang lebih dua kilometer jalan yang kutempuh, aku sampai juga disekolah.

Tet…….tet……..tet……..akupun sampai disekolahku. Kuambil langkah cepat, ditambah kakiku yang sedikit panjang sehingga langkahku lebih cepat. Dengan tergopah-gopoh, pakaianku yang tadinya rapi seperti manager bank sekarang sudah amburadul tak karuan, rambutku yang tertata rapi sekarang sudah acak-acakan. Akupun masuk kelas, dengan keringat yang bercucuran, kutuju tempat dudukku paling depan disebelah pojok tepat di depan meja guru. Akupun duduk manis seperti anak ayam menanti induknya pulang dengan membawa ayah baru.

Aku menoleh kebelakang, kupandang sebuah kursi kosong yang berada dibelakangku. Aku terkejut setelah menoleh kebelakang, mataku terbelalak, mulutku ternganga, tangan kananku meraup wajahku yang tak berdosa. “Dimana Fitriah?” tanyaku dalam hati. Fitriah adalah sesosok wanita yang manis dengan senyumnya yang apabila kaum Adam memandangnya maka akan terhipnotis, seperti hipnotisan Rommy Rafael. Wajahnya yang syahdu seperti lagu Roma Irama membuat aku tak bisa tidur semalaman. Itulah Fitriah, gadis pujaanku yang merupakan penyemangat dalam aku mencari ilmu. Kalau dia tidak masuk sekolah semangatku menuntut ilmu surut seketika.

Tiba-tiba dari luar kelas kami terdengar hentakan sepatu yang sangat misterius, kami sekelas bertanya-tanya dalam hati siapakah gerangan yang akan masuk kekelasku. Jreng……..jreng……..jreng……….ternyata dari pintu kelas kami yang sudah tak layak lagi dipasang, muncul sesosok manusia yang berperawakan besar, kumisnya yang tebal seperti kumis ikan lele yang ibuku beli di pasar pagi kemarin menutupi mulutnya yang mungil dan sedikit hitam warnanya yang mungkin bekas menghisap rokok murahan. Ternyata dia adalah Pak Mamad, guru matematika yang paling killer di sekolah kami . Anjing Fitbull yang paling ganas dan menakutkan, lebih ganas guru yang satu ini. Caranya mengajar seperti pada zaman penjajahan jepang. Tidak ada satupun siswa yang berani dengan Pak Mamad. Pak Mamad pun masuk kelas dengan gagah berani bak panglima perang memasuki medan kematian. Kami semua terdiam dan seketika kelas kami hening tanpa suara. Akupun duduk manis dan menyumbangkan senyumku yang tidak ikhlas pada pak Mamad walaupun dia seolah-olah tak peduli dengan senyumku tadi. Pak Mamad pun duduk di meja guru dengan percaya diri seperti pengantin yang akan duduk di pelaminan.

Tak berapa lama Pak Mamad duduk, tiba-tiba dari luar kelas terdengar hentakan sepatu yang sepertinya terburu-buru. Kami pun menoleh kearah jendela. Hati ku was-was karena kalau itu Fitriah yang terlambat, maka dia akan habis diterkam oleh guru yang satu ini.Ternyata perkiraanku benar, yang terlambat adalah Fitriah. Tanpa basa-basi lagi, alis pak Mamad pun naik sebelah, terlihat sekali ekspresinya sedang marah.

“Fitriah!!!!!!!! Knapa kamu terlambat?” tanya pak Mamad dengan muka yang geram.

Fitriah hanya bisa tertunduk dan menyembunyikan wajahnya yang lugu. Tak diduga, wajah Fitriah pun memerah dan air matanya pun satu-persatu tumpah ke bumi. Aku hanya bisa memandangi gadis pujaanku itu dengan perasaan iba yang tak terkira. Kupandangi matanya yang terus mengeluarkan air mata. Aku tahu betapa sedihnya dia. Tak terasa sudah satu jam kami belajar, Pak Mamad pun keluar dan hati kami seolah-olah berteriak ‘MERDEKA!!!!!’.

Tiba-tiba lamunanku pun terhenti ketika aku mendengar seseorang menyapaku “Syahri! Pulang sekolah ini kamu mau nggak ikut kerumahku, temen-temen sekelas sudah aku ajak semua lho, hanya kamu yang belum aku ajak,” ucap Lady padaku.

“Hmmmmmmmmm! Bagaimana ya? Aku pikir-pikir dulu ya.”

“Nggak usah mikir-mikir lagi, ntar keburu malem!”

“Ya deh, insya Allah aku ikut.”

”Awas ya nggak ikut?” Lady pun pergi meninggalkanku dan akupun kembali mengerjakan aktifitasku.

TET………..TET………….TET…………….Kami pun pulang sekolah, dan sesuai perjanjian tadi, aku bersama teman-teman akan main kerumah Lady. Kamipun naik angkot yang sudah reot, catnya sudah sedikit pudar dan kebetulan waktu itu pak sopir memutar lagu Armada ”Mau di bawa kemana”. Akupun duduk di pojok sambil menikmati lagu itu walaupun suasananya sangat panas.

Disebelahku duduk wanita yang kuceritakan tadi,”Fitriah”namanya. Aku hanya diam seribu kata, jantungku dag dig dug seakan mau copot, darahku mengalir deras seperti sungai musi yang mengalir di bawah jembatan Ampera, tubuhku berkeringat, mataku hanya terpaku pada jendela mobil angkot yang reot, mulutku terkunci dan sulit aku buka. Maklum baru kali ini aku duduk dekat dia. Ditengah perjalanan aku hanya diam dan begitu juga dia. Aku tak sanggup memulai pembicaraan, aku seperti nelayan yang tersesat di samudra luas, bingung mau bicara apa.
(bersambung)
.

.


.

Ku Tak Kuasa

Mona Khoirunnisah, XI IPA 2

Pikir ku aku akan mampu
Melintasi khayalan – khayalan konyol ini
Melewati impian – impian semu ini
Yang membuat kaki ku lelah untuk melangkah

Ku coba tapi tak kuasa, tak mampu aku
Kaki ini terus mencoba melangkah
Tapi coba pandang itu jalan yang pernah aku lalui
Dan itu hanya akan membuat ku perih

Jika boleh aku berandai …
Tentang semua yang telah kulalui,
Dan tentang apa yang akan aku lalui
Ku ingin semuanya Indah, Sempurna, dan Istimewa

Tapi ku tak kuasa, tak mampu aku
Ini sudah terjadi dan pasti akan berakibat di masa depan
Sulit untuk dipahami, bila berfikir sederhana
Tapi ini juga lah hatiku, ini tentang perasaanku

Cerita yang benar – benar terasa perih
Yang membuat semua nya menjauh,
Yang membuat semua nya menghilang,
Dan yang membuatku tak kuasa …
Hanya karena sebuah asa yang sia – sia
.
.


.

Menanti Kau Kembali

Samsul, X.2

Ku mencari hati yang pergi
Kapankah kau kembali
Dan kumencari cinta yang hilang
Kapankah kan kembali datang

Aku terbang tinggi
Tuk menggapai bintang di langit
Hanya untuk kembali
Kembali bersamamu lagi

Kuharap dirimu sabar menunggu
Menunggu seperti janjiku kepadamu
Untukku
.
.


.

Pagi

Denny Bachtiar, X.2

Angin sepoi
Pohon melambai
Merentangkan tangan kakunya

Butiran embun menetes
Setetes demi setetes
Terjun membasahi alam
Mengembalikan kemudaan bumi

Langit merah merekah
Ditengah hiruk pikuk
Ibu kota yang sempit

Ayam berkokok dimana-mana
Selang seling suaranya menyambut pagi
Yang penuh rencana

Burung bernyanyi
Tentang celoteh manusia
Yang rakus atas segalanya

Mentari merangkak naik
Meninggalkan singgasananya
Embun, burung, angin
Hilang lelap ditelan bumi
.
.


.

Hamba yang Lemah

Riduan, X.2

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Oh Tuhan, sungguh besar keagunganMu
Oh Tuhan, Engkau maha agung
Engkau maha perkasa
Dan Engkau maha bijaksana

Aku hanyalah segelintir dari yang Engkau ciptakan
Aku hanyalah makhluk yang lemah
Ibarat setitik embun yang jatuh di lautan

Oh Tuhan…
Beri hambaMu ketabahan
Dalam menjalani cobaan
Sesungguhnya aku hanyalah hambaMu yang lemah
Yang tak lepas dari segala dosa
.
.


.

Jadikan

Sumrina, XI IPS 1

Jadikan jiwamu, jiwa penyayang
Luaskan masamu, dengan sembahyang
Sayangi dirimu dan semua orang
Jagalah akhlakmu, jangan sampai terbuang
Serahkanlah dirimu, kepada yang Maha Penyayang
Ingatlah Allah saaat amalam ataupun siang
Setialah dirimu, pada orang yang kamu sayang
.
.


.

Kasih Sayang

Falco Husaiman, X.2

Mengenalmu adalah suatu keinginan
Menyanyangimu adalah suatu kebahagiaan
Mencintaimu adalah suatu keindahan

Hidup bersamamu adalah suatu impian
Melupankanmu tak mungkin kulakukan
Sampai suatu saat, entah sampai kapan

Saat ku tak bernafas lagi
Ketahuilah…..
Hadiah terindah yang pernah aku tahu
Adalah mengenal dan menyayangimu
.
.


.

Semua Hancur Karena Dustamu

Mutiara Rosalina, X.2

Hatiku terasa amat perih
Saat kutahu bibirmu mendustaiku
Jiwaku terasa tergores sembilu
Saat kutahu hatimu tak lagi untukku

Kubuka lagi memoriku yang tersimpan
Kala kau datang hancurkan gersangnya taman hatiku
Kau tautkan seutas tali di ujung perasaanku
Lalu kau sambungkan dengan kasih dan cintamu

Kini….
Kata-kata cinta yang pernah terucap
Hilang seketika dalam satu hembusan nafas
Lenyap tak berbekas dalam satu kedipan mata
.


.

Dengan Jari yang terluka

Oleh : Zainuddin, XI IPS 1

Dengan jari yang terluka
Kubuka pintu fajar
Saat angin begitu kencang
Menopang tubuh yang terbungkus api

Diseberang pintu gerbang
Tanganmu yang lemah lembut
Merenggut air mataku
Dan aku bisa percaya pada cinta, sekali lagi

Cahaya kecil yang berkedip itu
Adalah cahaya yang dikirimkan olehmu padaku
Tentang sebuah petunjuk atas bunga-bunga yang mekar
Di taman langit
.
.


.

Kudengar Lagu Riang

Ispikal Umri, XI IPS 1

Seolah kudengar langkah-langkahmu sayup bergerak
Seiring gugurnya ranting-ranting
Bagai renunganku sendiri yang berjatuhan
Dan pelan-pelan kuning yang memutih
Meresap ke tanah lembah dari wajahmu
Bagai senyap kalbu mendekap sunyi ini

Nanti pada malam
Kan kudengar lagu riang
Menyusun nada-nadamu yang berdendang
Selirih abadimu bernyanyi di dalam benakku
Saat kau bangunkan wajah-wajah tertidur
Di kuncup matamu itu
Bagai nyala jejak
Yang seanggun kiasmu
Menenun jiwa-jiwa
.
.


.

MY LOVE

By : Nur Aldillah Julita (XI IPA 2)

I will give you my eyes
So you can see what you can’t see
I will give you my hands
to erase your tears

I will give you my feet
to help you walk
when you don’t know the right way to step

I will give you my thought
to help you think when you can’t think
I will be you,
when you hate yourself and want to run from life

And i will give my heart
for the only one whom i love
’cause YOU are my love
.
.


.

KEEP TRYING

by : M. Akid, XI IPA 1

i know we can do it !
never ever say we can’t do it !

just try it . . .
and if you are failed at the first time . . .
try again and again and again and again !

over and over again !

i know we can !
i know we are the best !
i know never ever tired to trying . . . !

11 Komentar leave one →
  1. Krishna Kumar Gupta permalink
    01/05/2010 8:36 pm

    Keep trying, What a nice inspiring poem ! …………

  2. MONA KHOIRUNNISAH permalink
    05/05/2010 6:20 pm

    Keep trying, J’aime .. Don’t Give Up …!!

  3. hilma ulfa permalink
    13/05/2010 3:57 pm

    bu mna cerpennya…..???????????????

  4. mr g permalink
    13/05/2010 8:19 pm

    YAAAAAAAAA. DILA MY LOVE

  5. Zainuddin permalink
    18/05/2010 5:55 pm

    Bu puisi sya mana ?

  6. 20/05/2010 6:23 pm

    ne nah tak tamba’in

    BANGSAKU, NEGERIKU . . .
    Terpikir, Kini bangsa tlah brubah . . .
    Jauh dari dulu, yang awal nya bersatu . . .
    Hilanglah kasih sayang di negeri ini . . .
    Mereka bilang . . .
    “ rakyat saling bangkit, nan saling bangun-membangun . . .
    Semua percuma bila tak bisa dipersatukan . . .
    Terlihat, di depan mata . . .
    Seperti negeri tak lagi bersahabat . . .
    Semua diam – dan menghanyutkan . . .
    Bangsa tak seperti semut . . .
    Yang saling menghormati. . .
    Tetaplah maju bangsaku. . .!!
    Aku membanggakanmu . . .!!
    Slalu bersatu negeriku . . .
    Kembalilah ke awal seperti dulu . . . !!

    tak apo kan bahasa indonesia bu’!

  7. MONA KHOIRUNNISAH permalink
    03/07/2010 2:17 pm

    wahh.. @mr. g

    secretmyer nya DILAA

    iia

  8. 28/07/2010 11:24 am

    minim update . . .

  9. nurmansyah permalink
    28/07/2010 8:42 pm

    karakter beraksi

  10. mona permalink
    15/11/2010 5:15 pm

    update nya dibikin rutin.. 🙂

  11. 08/09/2011 5:57 pm

    ibu, long time no see ! hha

    update nya dong di blog ini, masa pengasuhnya masih angkatan kami yang pada di perguruan tinggi sekarang. Go Go Go MAN 1 Palembang, saya sebagai alumni sedikit bangga baru saya anak madrasah aliyah negri yang berani menjajal jurusan dan program study saya. thx man 1, fighting !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: